Sebetulnya sudah lama sekali saya ingin menulis topik mengenai skripsi dan project ini. Entah kenapa topik ini menarik perhatian saya. Barangkali karena melihat fenomena yang ada di kalangan mahasiswa yang beranggapan bahwa skripsi hanya sekedar syarat untuk lulus dan mendapat gelar kesarjanaan derajat strata satu, atau mungkin kebetulan saya diminta untuk membuat modul kuliah mengenai MP atau mungkin melihat antusiasisme mahasiswa dalam melakukan penelitian sanagat minim?. Apakah betul bahwa skripsi ini hanya sekedar formalitas ? Tidak bolehkah kita sedikit mempunyai idealisme dalam membuat skripsi ato apa lah namanya ?
Mahasiswa jaman sekarang memang canggih-canggih. Tanyalah apa saja kepada mereka mengenai istilah teknologi, pasti mereka bisa menjawabnya. Namun sayang kecanggihan tersebut membuat mereka melupakan bahwa dalam dunia pendidikan tidak hanya kepintaran dan kecanggihan saja yang diperlukan. Minat mahasiswa dalam bidang penelitian masih sangat kurang (kalo ditanya berapa % kah jumlahnya saya juga belum tau he.he.he) ini hanya hipotesa saya saja lho (melalui observasi dan wawancara). Mudah-mudahan hipotesa saya salah !!
Pendidikan dan penelitian adalah 2 hal yang mempunyai korelasi positif. Mungkin kita masih ingat dengan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Penelitian masuk dalam salah satunya. Untuk mengakomodir keperluan penelitian tersebut maka dibuatlah syarat untuk menyelesaikan studi melalui Skripsi, Tesis bahkan Disertasi. Jadi bisa disimpulkan (tolong dibetulkan kalo saya salah ya?) bahwa Skripsi, Tesis dan Disertasi merupakan suatu bentuk laporan yang diperoleh dari hasil penelitian......
Hal inilah yang akhirnya membuat mahasiswa lebih memilih PROJECT ketimbang SKRIPSI. Berbagai alasan dikemukakan, yang sulit lah, ngga praktis lah, repot dan ribet lah atau waktunya kurang dan lain lain... Oke ngga masalah lah jika mereka lebih memilih PROJECT ketimbang SKRIPSI. Setidaknya mereka cukup sadar diri bahwa yang mereka pilih adalah PROJECT. Tapi ternyata ada yang lebih parah lagi, mengerjakan PROJECT tapi mengaku dan memaksa untuk disebut sebagai SKRIPSI. Pusiiiiiing !@?%*
Itu baru masalah pertama. Masalah yang kedua adalah bagaimana penerapan SKRIPSI pada jurusan Teknologi Informasi atau Sistem Informasi atau yang terkait bidang teknologi dan komputer (selain sosial, ekonomi dan hukum)???! Karena rata-rata mahasiswa dari jurusan ini membuat suatu desain ato rancangan yang akhirnya kita sebut sebagai PROJECT. Kalo memang SKRIPSI betul-betul ingin diterapkan secara benar dan idealis pada jurusan ini bagaimanakah Metodologi Penelitian yang sesuai ?? Betulkah membuat SKRIPSI itu sulit ???
Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts
8/01/2007
7/27/2007
Kriptografi
Entah kenapa hari ini (tanpa bermaksud menggurui) saya ingin menulis tentang kriptografi. Barangkali saya sedang ingin bermain sandi-sandi an dengan anda.
Kriptografi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari 2 kata yaitu kripto dan graphia. Kripto artinya rahasia dan graphia adalah tulisan. Kriptografi secara umum adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan berita.
Pada jaman Romawi kuno dikisahkan pada suatu saat Julius Caesar ingin mengirimkan pesan rahasia kepada seorang Jenderal di medan perang. Pesan tersebut harus dikirimkan melalui seorang kurir, tetapi karena pesan tersebut mengandung rahasia, Julius Caesar memikirkan bagaimana mengatasinya yaitu dengan mengacak pesan tersebut menjadi suatu pesan yang tidak dapat dipahami siapapun kecuali si Jenderal saja. Yang dilakukan Julius Caesar adalah mengganti semua susunan alfabet dari a, b, c dan seterusnya menjadi d, e, f dan seterusnya.
Perkembangan kriptografi begitu pesatnya sampai sekarang dari algoritma kriptografi klasik sampai algoritma kriptografi modern. Salah satu algoritma klasik yang digunakan oleh Julius Caesar adalah teknik substitusi atau yang lebih dikenal dengan Caesar Cipher. Caesar cipher ini mengganti posisi huruf awal dari alphabet. Kunci yang dipakai tergantung keinginan si pemakai. ROT 13 (Rotate by 13 places) merupakan salah satu Caesar cipher terkenal yang cukup sederhana. Selain itu ada juga Vignere Cipher.
Sedangkan untuk kriptografi modern berbeda dengan kriptografi sederhana / klasik, karena sudah menggunakan komputer dalam pengoperasiannya. Beberapa contoh algoritma modern seperti Stream Cipher, Block Cipher yang merupakan suatu algoritma dimana input dan outputnya berupa 1 block dan setiap block terdiri dari beberapa bit.
Kriptografi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari 2 kata yaitu kripto dan graphia. Kripto artinya rahasia dan graphia adalah tulisan. Kriptografi secara umum adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan berita.
Pada jaman Romawi kuno dikisahkan pada suatu saat Julius Caesar ingin mengirimkan pesan rahasia kepada seorang Jenderal di medan perang. Pesan tersebut harus dikirimkan melalui seorang kurir, tetapi karena pesan tersebut mengandung rahasia, Julius Caesar memikirkan bagaimana mengatasinya yaitu dengan mengacak pesan tersebut menjadi suatu pesan yang tidak dapat dipahami siapapun kecuali si Jenderal saja. Yang dilakukan Julius Caesar adalah mengganti semua susunan alfabet dari a, b, c dan seterusnya menjadi d, e, f dan seterusnya.
Perkembangan kriptografi begitu pesatnya sampai sekarang dari algoritma kriptografi klasik sampai algoritma kriptografi modern. Salah satu algoritma klasik yang digunakan oleh Julius Caesar adalah teknik substitusi atau yang lebih dikenal dengan Caesar Cipher. Caesar cipher ini mengganti posisi huruf awal dari alphabet. Kunci yang dipakai tergantung keinginan si pemakai. ROT 13 (Rotate by 13 places) merupakan salah satu Caesar cipher terkenal yang cukup sederhana. Selain itu ada juga Vignere Cipher.
Sedangkan untuk kriptografi modern berbeda dengan kriptografi sederhana / klasik, karena sudah menggunakan komputer dalam pengoperasiannya. Beberapa contoh algoritma modern seperti Stream Cipher, Block Cipher yang merupakan suatu algoritma dimana input dan outputnya berupa 1 block dan setiap block terdiri dari beberapa bit.
6/21/2007
Lobby...lobby...seberapa perlukah ? (Dunia Pendidikan juga ?!!)
Kita sering mendengar orang mengatakan “Ngga tau ya bisa apa ndak ?. Aku coba lobby dulu ke orangnya !”. Kalo kita tengok di kamus bahasa Inggris arti dari lobby itu sendiri adalah (1)ruang masuk, (2)mencoba mempengaruhi. Nampaknya pengertian kedua yang akan kita bicarakan kali ini....
Jika seseorang merasa tidak melewati jalan yang mulus untuk mendapatkan keinginannya maka ia akan mencoba menggunakan cara lain yang seringkali di luar prosedur, ada yang mengatakan itu sebagai bentuk lobby. Jika ada seseorang mencoba mengubah keputusan orang lain demi tercapai tujuannya (entah bagaimana caranya), juga ada yang mengatakan itu sebagai bentuk lobby.
Lobby..lobby.. sebuah kebiasaan, kebutuhan, keharusan atau penyakit ? Nggak taulah !! Pernah ada satu ketika saya tersenyum simpul mendengarkan seorang mahasiswa menyeletuk ke temannya ketika teman yang lain lewat di hadapan mereka “Eh, lihat itu Mr. Lobby..Lobby, Mr. Lobby..Lobby (sambil mendendangkannya persis irama lagu “Mr. Loba-Loba” eh bukan ding judulnya sih “Mr. Bombastic” by Shaggy) !!” Meskipun saya pikir kayaknya nggak nyambung deh isi dari lagu tersebut dengan mahasiswa “Lobby-Lobby” itu. Begitu sinis mereka memandang dan berpikir tentang si “Lobby-Lobby”. Belum-belum ada negative thinking “Jangan-jangan si Lobby-lobby neh mau nemuin dosen A untuk urusan nilai yang nggak keluar karena masalah absen yang mepet. Eh..jatuh-jatuhnya dalam itungan hari nilai AB terpampang di papan pengumuman. Lobbying nya hebat juga neh anak..(gumaman, ungkapan, celotehan, pikiran bahkan umpatan dari temen-temen se angkatan nya silih berganti)..” Kali ini lagi-lagi saya lah yang sempet mendengar dengan tidak sengaja omongan dari temen si Lobby-loby tersebut. Namun kali ini bukan senyum simpul yang nampak dari wajah saya, melainkan kernyitan di kening sembari berpikir “Actually, what is going on?” “What’s wrong with lobby-lobby ?”
Sebegitu hebatkah dampak yang ditimbulkan dari sebuah lobby-lobby ? Apakah lobby-lobby merupakan sesuatu hal yang teramat istimewa sehingga banyak orang yang memanfaatkannya bahkan mencemoohnya ?
Kita dapat melihat bagaimana seseorang yang ingin sekali maju menjadi ketua sebuah partai, kepala suku dari sebuah daerah, bahkan ketua OSIS pun berusaha melakukan lobbying dari satu orang ke orang lain dari satu tempat ke tempat lain? Wajarkah hal ini? Uuups...pertanyaan yang salah ! Semestinya, jika hampir semua orang sudah pernah melakukan hal tersebut maka yang jadi jawabannya adalah “Ya ! Itu sesuatu yang teramat sangat wajar..”
Bagaimana dengan dunia pendidikan ? Perlukah lobbying ini? Jika perlu, sampai sejauh mana ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang sering sekali bolos untuk alasan yang tidak jelas, dan diijinkan mengikuti ujian ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang selalu ingin menghindari tugas yang diberikan oleh dosen ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang bahkan tidak pernah mengerti apa yang selama ini ia pelajari dari semester awal sampai semester akhir ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang tidak pernah mengikuti ujian tetapi meminta nilai ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang tidak pernah belajar sama sekali tapi ingin lulus dan mendapatkan nilai bagus?
Akhirnya kita akan merenung dan berpikir, jika semua jawaban atas pertanyaan tersebut adalah sah-sah saja, maka apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia pendidikan kita?
Kemanakah nilai idealisme pendidikan yang kita bangga-banggakan ? Sudahkan terjadi degradasi nilai pendidikan di Indonesia ? Apakah institusi pendidikan tak jauh beda dengan gambaran peta politik Indonesia saat ini, dimana semuanya dipenuhi dengan strategi yang cerdas.. atau licik ? Benarkah sebuah lobbying juga merupakan usaha ? Salahkah saya kalau mengatakan demikian ? Bahwa seorang mahasiswa jika ingin lulus dengan predikat yang baik atau bahkan sangat memuaskan harus rajin berdoa dan berusaha ? Tetapi benarkah lobbying merupakan bentuk usaha yang harus ditempuh juga ? Bahwa lobbying lebih bisa diandalkan ketimbang harus belajar mati-matian berkutat dengan buku-buku tebal dan tugas dosen yang tak ada habisnya ?
Yaahh...kembali lagi hanya kita sebagai si pelaku yang dapat menjawab. Mungkin lobbying memang diperlukan tetapi bukan suatu keharusan dan kebutuhan. Mungkin saja lobbying memang diperlukan jika kita sudah berusaha sekeras mungkin tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Mungkin saja lobbying diperlukan jika kita menemui banyak sekali rintangan untuk mewujudkan tujuan kita. Mungkin saja lobbying memang diperlukan untuk satu saat dimana kita benar-benar tidak menemukan jalan keluar lagi.........
Jika seseorang merasa tidak melewati jalan yang mulus untuk mendapatkan keinginannya maka ia akan mencoba menggunakan cara lain yang seringkali di luar prosedur, ada yang mengatakan itu sebagai bentuk lobby. Jika ada seseorang mencoba mengubah keputusan orang lain demi tercapai tujuannya (entah bagaimana caranya), juga ada yang mengatakan itu sebagai bentuk lobby.
Lobby..lobby.. sebuah kebiasaan, kebutuhan, keharusan atau penyakit ? Nggak taulah !! Pernah ada satu ketika saya tersenyum simpul mendengarkan seorang mahasiswa menyeletuk ke temannya ketika teman yang lain lewat di hadapan mereka “Eh, lihat itu Mr. Lobby..Lobby, Mr. Lobby..Lobby (sambil mendendangkannya persis irama lagu “Mr. Loba-Loba” eh bukan ding judulnya sih “Mr. Bombastic” by Shaggy) !!” Meskipun saya pikir kayaknya nggak nyambung deh isi dari lagu tersebut dengan mahasiswa “Lobby-Lobby” itu. Begitu sinis mereka memandang dan berpikir tentang si “Lobby-Lobby”. Belum-belum ada negative thinking “Jangan-jangan si Lobby-lobby neh mau nemuin dosen A untuk urusan nilai yang nggak keluar karena masalah absen yang mepet. Eh..jatuh-jatuhnya dalam itungan hari nilai AB terpampang di papan pengumuman. Lobbying nya hebat juga neh anak..(gumaman, ungkapan, celotehan, pikiran bahkan umpatan dari temen-temen se angkatan nya silih berganti)..” Kali ini lagi-lagi saya lah yang sempet mendengar dengan tidak sengaja omongan dari temen si Lobby-loby tersebut. Namun kali ini bukan senyum simpul yang nampak dari wajah saya, melainkan kernyitan di kening sembari berpikir “Actually, what is going on?” “What’s wrong with lobby-lobby ?”
Sebegitu hebatkah dampak yang ditimbulkan dari sebuah lobby-lobby ? Apakah lobby-lobby merupakan sesuatu hal yang teramat istimewa sehingga banyak orang yang memanfaatkannya bahkan mencemoohnya ?
Kita dapat melihat bagaimana seseorang yang ingin sekali maju menjadi ketua sebuah partai, kepala suku dari sebuah daerah, bahkan ketua OSIS pun berusaha melakukan lobbying dari satu orang ke orang lain dari satu tempat ke tempat lain? Wajarkah hal ini? Uuups...pertanyaan yang salah ! Semestinya, jika hampir semua orang sudah pernah melakukan hal tersebut maka yang jadi jawabannya adalah “Ya ! Itu sesuatu yang teramat sangat wajar..”
Bagaimana dengan dunia pendidikan ? Perlukah lobbying ini? Jika perlu, sampai sejauh mana ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang sering sekali bolos untuk alasan yang tidak jelas, dan diijinkan mengikuti ujian ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang selalu ingin menghindari tugas yang diberikan oleh dosen ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang bahkan tidak pernah mengerti apa yang selama ini ia pelajari dari semester awal sampai semester akhir ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang tidak pernah mengikuti ujian tetapi meminta nilai ?
Apakah sah-sah saja jika lobbying dilakukan oleh mahasiswa yang tidak pernah belajar sama sekali tapi ingin lulus dan mendapatkan nilai bagus?
Akhirnya kita akan merenung dan berpikir, jika semua jawaban atas pertanyaan tersebut adalah sah-sah saja, maka apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia pendidikan kita?
Kemanakah nilai idealisme pendidikan yang kita bangga-banggakan ? Sudahkan terjadi degradasi nilai pendidikan di Indonesia ? Apakah institusi pendidikan tak jauh beda dengan gambaran peta politik Indonesia saat ini, dimana semuanya dipenuhi dengan strategi yang cerdas.. atau licik ? Benarkah sebuah lobbying juga merupakan usaha ? Salahkah saya kalau mengatakan demikian ? Bahwa seorang mahasiswa jika ingin lulus dengan predikat yang baik atau bahkan sangat memuaskan harus rajin berdoa dan berusaha ? Tetapi benarkah lobbying merupakan bentuk usaha yang harus ditempuh juga ? Bahwa lobbying lebih bisa diandalkan ketimbang harus belajar mati-matian berkutat dengan buku-buku tebal dan tugas dosen yang tak ada habisnya ?
Yaahh...kembali lagi hanya kita sebagai si pelaku yang dapat menjawab. Mungkin lobbying memang diperlukan tetapi bukan suatu keharusan dan kebutuhan. Mungkin saja lobbying memang diperlukan jika kita sudah berusaha sekeras mungkin tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Mungkin saja lobbying diperlukan jika kita menemui banyak sekali rintangan untuk mewujudkan tujuan kita. Mungkin saja lobbying memang diperlukan untuk satu saat dimana kita benar-benar tidak menemukan jalan keluar lagi.........
Subscribe to:
Posts (Atom)